Sabtu, 17 Februari 2018

Cerita Si Miskin

Cerita ke sekian

Sedang duduk manis depan rumah ditemani secangkir kopi pahit asem yang sengaja gak kutambah gula biar aku bisa pecinta kopi sejati, tetapi sayang baru sesendok saja ku minum sudah tak sanggup lagi minumnya. Mata ini sedang sibuk melihat anak lelaki membawa karung isi botol plastik, sangat kumal dia, dibilang cakep pun jauh jadi gak mungkin karena naksir aku mandangnya.

Rasanya pernah lihat anak itu. Lama aku berpikir setelah dia lewat jauh dari rumah baru aku sadar dia pemulung yang dulu pernah makan sampah didepan rumah koruptor, dia adalah pemulung favoritku tahun 2012. Aku keluar rumah untuk menyapa dia kali aja dia mau nyicip kopiku.

" Dek dek oh dek" tidak disautnya, dia masih aja terus jalan
"pemulung" terpakasa aku teriak gitu, kan identitas nya itu. Maaf kalau aku kasar, tapi bagiku itu tidak kasar itu sama dengan saat aku panggil mamang bakso lewat, maka tak bisa kau panggil namanya kan dia gak jual nama tapi jual bakso.

Dia putar balik, dan langsung jalan kearahku
" ngapo yuk? Ado barang bekas?"
"ndak, masuk lah dulu"
Dia masuk, kusuruh duduk di bangku yang aku duduki tadi, aku duduk di pagar rumah ku yang memang pendek jadi bisa diduduki.
"Minum dulu dek" Dia minum dengan santai, mungkin dikira itu kola, tetapi habis tinggal ampas kopi saja
"Udah yuk, apo lagi?"
"Lah suko ko dengan kopi?"
"aku apo be dikasih aku habisi yuk hehe"
"dak pahit apo?"
"pahit tapi enak lah, ngapo dak ayuk habisi malah kasih ke aku?"
"dak, aku dak minumnyo"
"ah aku tengok tadi ayuk minum kopi ni"
"oh sedikit nian tadi cuma sesendok, masih baru itu"
"dak papo jugo kalo bekas yuk eh aku semuanyo bekasan lah"

Aku terdiam, bersalah karena nyuruh minum kopi bekasku
"oh gitu, mau lagi dak"
"ndak lah yuk, pahit"
"kubuatkan sirup"
"ndak, langsung be ku ambek barang bekasnyo"
"oh dak ado, aku cuma nak ngajak ngobrol be"
"oh kopi ni be yang bekasnyo"

Eh dasar nih bocah, sakit banget gue digituin sama dia,
"kemano be, kok jarang lagi nengok, biaso disekitar sini"
"dulu ado pembersihan yuk, aku ditangkap, terus lepas, aku pindah ambek sampah disano tu dekat terminal, jauh dari sini"
"terus ngapo balek kesini lagi"
"kemarin aku tiduk di atas mobil orang terus kebawa sampe ke pasar sano tu nah, untung dak dipukuli aku, orang tu tengok aku langsung teriak maleng, ado barangnyo hilang pun ndak aku cuma numpang tiduk be, lari lah aku terberet-beret sampai kesini, kalo ketangkap lah mati aku dipukul sumpah lah yuk"
"ohh kan ko dak maleng, ngapo takut"
"iyo dak maleng tapi kan aku takut mati yuk"
"oh iyo jugo yo"
"pernah kawan aku sampe mati dipukul rame-rame, ngeri lebih hebat dari polisi kalo orang dengar maleng tuh, nak harus mati nian baru puas padahal maleng masih banyak jugo lah yang berkeliaran"
"kalo bukan malengnyo kasihan lah tapi kalo dio betul maleng yo rasoin lah dipukulin biar kapok"
" dio kan cuma mau maleng yuk bukan mau buat orang-orang tuh jadi pembunuh"

*Tamat

otak dan hati

"Hai, " aku diam menunggu otak mengantarkan kata-kata yang akan aku ucapkan padanya pagi ini
"Hai" Dia menjawab cepat sebelum mulutku kembali terbuka

Kami diam lama, beradu siapa yang duluan bertanya atau memberi tau tanpa ditanya dulu

"aku mau pergi ke kampus" aku jadi benci dengan otakku kenapa malah kalimat tidak penting itu yang keluar
"mau ku antar?" dia yang bertanya pagi ini. aku bersyukur atas pertanyaannya
"oh gak usah, aku pake motor sendiri".

Lalu kembali diam, untuk mengikuti alur dialog ini seharusnya giliran dia yang bicara, tapi dia cuma diam, aku sibuk memerintahkan otak ini agar cepat mengeluarkan kata-kata lagi, "Ayo kerja hai otak, ini masih pagi kau masih fresh untuk berkerja" benakku.

"sampai jam berapa ngampus?" dia berbicara, sekarang tak diam lagi, ini giliran dialogku, otakku takkan lama untuk menjawabnya.
"siang sekitar jam 2 sudah pulang, kenapa?", langsung ku serang dengan pertanyaan, ini pertanyaan pertama ku pagi ini.
"hmm gak ada, kirain sampe malem lagi" kutunggu kalimat selanjutnya, tapi tidak ada,
"hari ini gak ada praktikum".
"hmm" bagiku sudah lama menunggu kalimatnya lagi tapi tak ada juga lagi suaranya. selesai sudah pembicaraan pagi ini
"ya udah aku ke kampus ya" dia mengangguk sambil tersenyum

Aku memunggunginya dengan perasaan bersalah, bersalah kepada diri ini yang kembali resah karena tiap pagi tak bisa menjadi obatnya. Kau ingin tau kalimat apa yang ingin dikeluarkan oleh otak ini tapi nyangkut di hati karena perasaan.

" Hai, selamat  pagi"
" Mau pergi jam berapa? Boleh bareng?
" Kamu ngapai aja hari ini?"
" Kamu sarapan apa?"
" Tadi malam tidur jam berapa?"
" apa yang kamu lakukan sebelum tidur?"

Masih banyak lagi yang ingin kutanyakan tapi hati ini yang melarang aku untuk memulai bertanya karena gengsi/harga diri/wanita. ketiga itu membuat aku hanya bisa memulai dengan hai saja.