Senin, 01 Oktober 2012

Ratu dan Raja Seharian (Ep 6)



“Hasan?”
Dia diam saja  merenung hampir ingin menangis lagi. Aku seperti tahu sedih yang dirasakan Arsil, terlihat dia sangat menyesal dengan ikut – ikutan itu terjerumus dengan kenakalan remaja apalagi harus kehilangan sahabat
“waktu aku mau keluar aku beranikan diri bertanya kabar Hasan ke polisi, mereka bilang Hasan tidak bisa diselamatkan, meninggal di perjalanan ke rumah sakit dan pelajar yang nusuk Hasan sudah di hukum masuk penjara juga dan akan diadili. Aku menangis sejadi – jadinya di kantor polisi itu sungguh aku menyesal kenapa aku tidak lihat laki – laki SMP itu mau nusuk Hasan, aku bodoh sekali sebenarnya aku lah yang salah Fit, aku lah pembunuh Hasan kalau saja aku tidak memukul  ketua dari SMP lawanku itu mungkin tidak akan terjadi apa – apa, Hasan juga melarangku memukulnya lagi karena dia tahu kalau sempat melukai itu preman aku bisa dihabisi dengan anak buahnya juga. Andai dia membiarkan aku memukul preman itu mungkin aku yang sudah tidak ada.
“Ya tuhann maaf kan lah aku, sampai sekarang rasa penyesalan selalu menghantui aku dan hanya doa yang bisa ku lakukan, aku pengecut sekali”
Dia mengeluarkan air mata. Aku pun juga menangis aku juga pernah kehilangan.
“Tidak perlu menyesal Sil, semua udah jalannya ini takdir Allah, dan biarlah Hasan tenang disana, kita disini Cuma bisa mendoakannya”
“Iya aku tahu itu tapi mengingat kejadian itu benar – benar buat aku pingin marah benar – benar bodoh aku disana. Sejak itu aku berubah jadi anak baik – baik tidak nakal lagi seperti SD dan tidak jadi preman lagi seperti di SMP HP”
“SMP HP terus HP itu apa? Aku tidak pernah dengar ada sekolah di singkat HP”
“Harapan Palsu hahaha”
“Tidak Lucu”
“Hasan Pamungkas. Nama anak pemilik sekolah itu dan temanku yang meninggal gara – gara kebodohanku”
“oh anak pemilik sekolah ya Hasan itu. Terus kamu tidak di carikan sama keluarga Hasan?”
“Aku tidak tahu, aku pindah dari kosan ke rumah kakek malam itu juga. Rumah kakek jauh sekali dari kosan dan SMP HP, aku tidak pernah ketemu lagi dengan teman – teman SMP ku, mereka ntah tau atau tidak kabarku gimana aku tidak peduli. Aku ingin hilang dari mereka dan tidak ingin lagi mengenang masa – masa burukku, aku jadi anak baik – baik kembali menjadi juara dan menjadi penurut. Aku didaftarkan ke sekolah negeri di dekat rumah kakek walau sekolah itu tidak sebagus SMP 1 tetapi  guru – guru nya baik – baik. Aku melanjutkan ke SMA negeri yang ada disana. Tidak ada yang menarik selain menjadi juara dan menang bila ada perlombaan akademik. Di rumah kakek aku juga seperti biasa saja hidup enak jadi orang kaya soal pertemuan kami yang tidak enak kakek tidak mempermasalahkannya dan tiap liburan aku pulang kampung bersama kakek kan dulu waktu ngekos aku pulang sendiri. Kakek ingin buat perusahaan untukku dia tidak ingin nasibku sama seperti ayah, hanya ingin jadi pegawai negeri  yang pas – pasan dan sibuk melayani masyarakat. Kakek  ingin aku jadi pemiliknya dan saat itu aku baru mau lulus SMA. Aku mau dimasukkan ke sekolah bisnis atau jurusan bisnis, aku menolak aku memang suka bisnis  tetapi aku tidak tertarik dengan bisnis menurutku sejak kecil aku sudah pintar berbisnis, siapa yang bua usaha jual sayuran di rumah? Aku kan dan aku pula yang jadi penjual sayur keliling pertama. Aku lebih memilih ke eksak ya aku pilih saja pertanian, kerjaan pertanian aku dirumah selalu buruk jadi aku ingin punya ilmu yang lebih untuk usah sayur mayor di rumah. Asalan disana juga mengingatkan cita – cita ku jadi penjual sayur terkenal. Kenapa harus sekolah? Padahal aku bisa kerja menghasilkan uang dan tidak perlu menghabiskan proses yang begitu lama untuk dapat kerjaan. Aku disana menemukan jawabannya. Kampus idamanku kudapatkan dengan kerja keras, aku tes sekali gagal, tes kedua aku malah sakit dan tidak ikut tes, untung ada tes lagi dan aku lulus. Kakek pun tidak jadi sakit karena dengar kabar bahagia dari ku. Aku kuliah di kota lain lebih bahaya dan benar – benar ramai, aku yang dulunya juga pernah mengalami hal seperti itu jadi biasa saja ditambah lagi bantuan kakek yang terlalu mewah menurut ku.”
“Ada cerita apa saat kuliah?”
“Cinta. Waktu SMP sebenarnya aku  tidak tahu cinta itu apa, namanya juga dipaksa. Aku ketemu dia saat dia duduk disampingku saat belajar ilmu pertanian semester pertama hari pertama kuliah. Aku tidak ikut acara orientasi aku takut nanti kejadiannya sama dengan yang dulu jadi aku terlambat mengenal teman – temanku. Dia bertanya apakah aku sudah absen dan aku jawab belum lalu dia memberia absen itu kepadaku aku pun tahu namanya dari absen itu nama paling bawah Difara Nursan. Nomor mahasiswanya hamper sama denganku Cuma beda dua angka belakangnya saja”
“Ya iya lah, teman seangkatanmu juga begitu Sil. Dia cinta pertamamu?” sepertinya cerita ini akan panjang lebih panjang, absen pun diceritakan apa lagi yang lain
“oh iya ya, belum saat itu aku cuma mau kenal dengan teman – temanku saja. Dia lah teman pertamaku, aku bertanya terus kepadanya dia dengan tidak merasa direpotkan menjawab dengan baik dan jelas. Kami  terus bersama – sama saat ke perpus, kantin dan ke ruang dosen kecuali toilet, tetapi tidak sampai sebulan kami berpisah”
“Kenapa? Dia pindah?”
“Nggak, dia semakin banyak teman ya teman wanita dan aku jadi sering berteman dengan laki – laki”
“Ya ampun itu saja disebut berpisah”
“Karena berpisah itu lah aku jatuh cinta kepadanya, aku jadi ingin dekat dia terus dan selalu memperhatikannya. Rasa penasaranku yang berlebihan aku sebut cinta”
“Ciyeeee”
“haha lebay ya? Tetapi gimana tidak dia itu sungguh memesona, dia sangat baik, ramah dan senang terus tidak pernah aku melihatnya dia marah ataupun sedih. Aku merasa benar – benar mencintainya saat dia menjawab pertanyaan ku. Saat aku sedang asyik baca buku sendiri di sekitar kampus dia datang duduk disampingku dan tertawa renyah. Aku  berhenti membaca buku dan memilih mengobrol dengannya. Saat obrolan kami sudah selesai dia diam dan aku diam, kami sama – sama diam sungguh diam yang membingungkan aku ingin ngobrol lagi tetapi tidak ada lagi yang ingin diobroli, tentang semua dosen sudah, mata kuliah sudah, tugas
sudah, tentang laporan dan praktikum pun sudah semua. Aku pun iseng bertanya.”
“kau Tanya mau kah jadi pacarku? Apa kau mencintaiku?” aku langsung ngerocos saja
“Ya tidak lah, aku Tanya apa pentingnya pendidikan, sekolah, kuliah seperti ini? Aku bilang keluhanku tentang proses yang terlalu panjang ini dan hasil yang tidak kelihatan sama sekali. Masa depan kan tidak jelas. Dia pertama – tamanya diam saja, aku kira dia akan tertawa ternyata tidak dia menjawab dengan santai. “Tentu saja penting bila kita mendapatkan hasil tanpa proses mana mungkin kita bisa menghargai hasil itu, pasti kita merasa sombong dan lupa diri. Sekolah ataupun pendidikan penting atau tidaknya itu menurutku banyak gunanya seperti sekarang kalau tidak sekolah mana mungkin aku bisa kuliah dan berteman dengan kamu. semua orang tahu siapa Albert Einsten dan yang sekolah pasti tahu, walau hanya Albert Einsten yang tidak tahu dia pasti lah malu.” Sepanjang hidupku aku tidak berani bertanya kepada orang lain karena aku tahu ini pertanyaan anak kecil tapi sungguh dia sangat mengerti aku dia memberi  penjelasan  yang aku inginkan dari dulu. Aku sungguh jatuh cinta kepadanya tanpa paksaan apapun dan tanpa alasan yang jelas. Dia begitu indah karena aku mencintainya.”
“ohh so sweet, terus kalian jadian?”
“waktu SMP aku nembak cewek tanpa rasa apa – apa, grogi tidak dan takut ditolak pun tidak ku anggap Cuma mainan saja. Tetapi yang ini sungguh aku benar – benar takut ditolak dan rasaku dengan dia bukan main – main, aku serius mencintai dia dan aku tidak mau mempermainkan cintaku yang luarbiasa ini  hanya untuk jadikan dia pacar yang aku tidak tahu guna nya apa. Aku waktu itu berharap dia yang akan menjadi jodohku.” Dia melihatku dan tersenyum sambil melihat langit. Aku rasa dia kecewa, aku tahu perasaannya gimana.
“Difa ternyata kerja saat malam hari, aku tahu saat makan malam sama kakek. Waktu itu kakek datang untuk melihatku dia memang 2 minggu sekali ke kosanku melihat perlengkapanku dan bercerita – cerita tentang kuliahku. Malam itu kakek dan aku duduk di bagian sudut. Kami duduk menunggu lama pelayan datang tiba – tiba dibelakangku ada suara. Aku lihat hey aku tersontak kaget melihat Difa berpakaian warna serba hitam dan memegang buku menu dan menyodorkan ke aku dan kakek. Dia tersenyum kepadaku dan aku pun memperkenalkannya ke kakek. Kakek sepertinya sangat suka sama Difa dia lama berbicara awalnya mereka ngobrol tentang kuliah dan lama – lama kakek juga tidak enak jadi bertanya – Tanya soal menu. Aku melihat mereka berdua begitu akrab, jujur ya aku mesyukuri hal itu setidaknya calon cucu sudah akrab dengan calon kakek hehehe”
“hahaha kau detail sekali menceritakannya sampai tahu dia berpakaian apa, padahal itu kan sudah lama”
“Apapun itu pokoknya tentang Difa bisa sedetailnya aku ingat. Saat pertama kali ketemu di kelas dia pakai kemeja biru, celana lepis biru dan sepatu kets putih. Tiap ke kampus dia pakai tas selempang warna coklat dan yang selalu dia bawa dompet biru langit bergambar bintang kartun”
“Prokkk..prookkk..” aku tepuk tangan dengan pengingatan Arsil yang jago sekali, dia memang cerdas tapi jelas ini bukan bukan hanya factor cerdas saja tapi juga cintanya dia.
“itu belum seberapa. Selain kerja dia juga aktif di organisasi. Aku juga aktif sih tapi ya dia duluan yang gabung ke organisasi itu baru aku ikut gabung. Dia ikut BEM aku juga, dia ikut organisasi keagamaan aku juga, dia ikut olahraga silat aku juga. Dia jadi anggota biasa aku coba mencari perhatiannya jadi ketua karena dial ah aku belajar leadership. Aku jadi presiden di kampus karena ingin dia melihatku selalu. Waktu setahun menjabat jadi ketua di kampus aku benar – benar banyak mendapatkan ilmu. Dan dia walau jadi anggota biasa selalu aku jadikan teamwork aku. Dia puny aide yang luar biasa dan tiap idenya pasti berhubungan dengan social menolong ini, bantu itu. Aku ingin dia Fit.” Aku mungkin dianggan cemburu tapi tidak  aku tahu apa yang terjadi dengan Arsil.

“selama perkuliahan kami kalang kabut. Ikut organisasi memang sedikit mengganggu urusan kuliah. Tetapi bisa diatur selama aku bisa mengatur waktu, masa Difa yang malamnya kerja aja masih sanggup dapat IP tinggi aku yang masih ada waktu luang mau kalah. Nanti aku dianggap calon suami yang pemalas lagi jadi aku berusaha dapat mengatur waktu untuk belajar dan biat tugas dan akhirnya aku dapat IP tertinggi terus. Difa palingan beda tipis lah dengan aku. Jelas aku tidak mau kalah dengan dia, aku mau istri ku pintar dan aku lebih pintar itu keinginanku waktu itu.
“waktu kuliah begitu cepat tidak diasangka jabatan presiden sudah diambil orang dan aku sudah tidak kuliah seperti biasa. Menyusun skripsi yang begitu menegangkan. Penelitian aku di kampung Ipukandra aku meneliti tingkat pertumbuhan berbagai macam holtikultura di tanah yang ada di kampungku dan memberi beberapa perlakuan. Penelitianku amat lama hamper setahun karena sampel ku banyak dan  maklum di kampung sendiri jadi keenakan. Aku benar – benar kangen dengan lahan Ipukandra masa – masa kecil yang hidup social dengan tumbuhan kembali lagi. Andai Difa ada saat itu mungkin kami akan berlari – lari dipinggir lading dan sama – sama memanen wortel sambil mendengar dongeng Ipukandra. Dia sebenarnya udah tau dongeng Ipukandra, kalau tidak salah sudah 5 kali aku ceritakan. Dia tidak pernah terlihat bosan bahkan dia sama seperti aku salut sama Ipukandra.  Aku selesai penelitian sibuk ditelepon dengan dosen. Akhirnya aku kembali ke kampus tercinta denga aktivitas menyusun skripsi. Alhamdulilah 2 bulan bimbingan selesai dan aku siding skripsi. Aku waktu itu sudah kuliah 4 tahun lebih dan  5 tahun aku melaksanakan tugas sebagai mahasiswa.”
“Difa gimana?”
 
#Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar