“Hasan?”
Dia diam saja
merenung hampir ingin menangis lagi. Aku seperti tahu sedih yang
dirasakan Arsil, terlihat dia sangat menyesal dengan ikut – ikutan itu
terjerumus dengan kenakalan remaja apalagi harus kehilangan sahabat
“waktu aku mau keluar aku beranikan diri bertanya kabar
Hasan ke polisi, mereka bilang Hasan tidak bisa diselamatkan, meninggal di
perjalanan ke rumah sakit dan pelajar yang nusuk Hasan sudah di hukum masuk
penjara juga dan akan diadili. Aku menangis sejadi – jadinya di kantor polisi
itu sungguh aku menyesal kenapa aku tidak lihat laki – laki SMP itu mau nusuk
Hasan, aku bodoh sekali sebenarnya aku lah yang salah Fit, aku lah pembunuh Hasan
kalau saja aku tidak memukul ketua dari
SMP lawanku itu mungkin tidak akan terjadi apa – apa, Hasan juga melarangku
memukulnya lagi karena dia tahu kalau sempat melukai itu preman aku bisa
dihabisi dengan anak buahnya juga. Andai dia membiarkan aku memukul preman itu
mungkin aku yang sudah tidak ada.
“Ya tuhann maaf kan lah aku, sampai sekarang rasa penyesalan
selalu menghantui aku dan hanya doa yang bisa ku lakukan, aku pengecut sekali”
Dia mengeluarkan air mata. Aku pun juga menangis aku juga
pernah kehilangan.
“Tidak perlu menyesal Sil, semua udah jalannya ini takdir
Allah, dan biarlah Hasan tenang disana, kita disini Cuma bisa mendoakannya”
“Iya aku tahu itu tapi mengingat kejadian itu benar – benar
buat aku pingin marah benar – benar bodoh aku disana. Sejak itu aku berubah
jadi anak baik – baik tidak nakal lagi seperti SD dan tidak jadi preman lagi
seperti di SMP HP”
“SMP HP terus HP itu apa? Aku tidak pernah dengar ada
sekolah di singkat HP”
“Harapan Palsu hahaha”
“Tidak Lucu”
“Hasan Pamungkas. Nama anak pemilik sekolah itu dan temanku
yang meninggal gara – gara kebodohanku”
“oh anak pemilik sekolah ya Hasan itu. Terus kamu tidak di
carikan sama keluarga Hasan?”
“Aku tidak tahu, aku pindah dari kosan ke rumah kakek malam
itu juga. Rumah kakek jauh sekali dari kosan dan SMP HP, aku tidak pernah
ketemu lagi dengan teman – teman SMP ku, mereka ntah tau atau tidak kabarku
gimana aku tidak peduli. Aku ingin hilang dari mereka dan tidak ingin lagi
mengenang masa – masa burukku, aku jadi anak baik – baik kembali menjadi juara
dan menjadi penurut. Aku didaftarkan ke sekolah negeri di dekat rumah kakek
walau sekolah itu tidak sebagus SMP 1 tetapi
guru – guru nya baik – baik. Aku melanjutkan ke SMA negeri yang ada
disana. Tidak ada yang menarik selain menjadi juara dan menang bila ada
perlombaan akademik. Di rumah kakek aku juga seperti biasa saja hidup enak jadi
orang kaya soal pertemuan kami yang tidak enak kakek tidak mempermasalahkannya
dan tiap liburan aku pulang kampung bersama kakek kan dulu waktu ngekos aku
pulang sendiri. Kakek ingin buat perusahaan untukku dia tidak ingin nasibku
sama seperti ayah, hanya ingin jadi pegawai negeri yang pas – pasan dan sibuk melayani
masyarakat. Kakek ingin aku jadi
pemiliknya dan saat itu aku baru mau lulus SMA. Aku mau dimasukkan ke sekolah
bisnis atau jurusan bisnis, aku menolak aku memang suka bisnis tetapi aku tidak tertarik dengan bisnis
menurutku sejak kecil aku sudah pintar berbisnis, siapa yang bua usaha jual
sayuran di rumah? Aku kan dan aku pula yang jadi penjual sayur keliling
pertama. Aku lebih memilih ke eksak ya aku pilih saja pertanian, kerjaan
pertanian aku dirumah selalu buruk jadi aku ingin punya ilmu yang lebih untuk
usah sayur mayor di rumah. Asalan disana juga mengingatkan cita – cita ku jadi
penjual sayur terkenal. Kenapa harus sekolah? Padahal aku bisa kerja
menghasilkan uang dan tidak perlu menghabiskan proses yang begitu lama untuk
dapat kerjaan. Aku disana menemukan jawabannya. Kampus idamanku kudapatkan
dengan kerja keras, aku tes sekali gagal, tes kedua aku malah sakit dan tidak
ikut tes, untung ada tes lagi dan aku lulus. Kakek pun tidak jadi sakit karena
dengar kabar bahagia dari ku. Aku kuliah di kota lain lebih bahaya dan benar –
benar ramai, aku yang dulunya juga pernah mengalami hal seperti itu jadi biasa
saja ditambah lagi bantuan kakek yang terlalu mewah menurut ku.”
“Ada cerita apa saat kuliah?”
“Cinta. Waktu SMP sebenarnya aku tidak tahu cinta itu apa, namanya juga
dipaksa. Aku ketemu dia saat dia duduk disampingku saat belajar ilmu pertanian
semester pertama hari pertama kuliah. Aku tidak ikut acara orientasi aku takut
nanti kejadiannya sama dengan yang dulu jadi aku terlambat mengenal teman –
temanku. Dia bertanya apakah aku sudah absen dan aku jawab belum lalu dia
memberia absen itu kepadaku aku pun tahu namanya dari absen itu nama paling
bawah Difara Nursan. Nomor mahasiswanya hamper sama denganku Cuma beda dua
angka belakangnya saja”
“Ya iya lah, teman seangkatanmu juga begitu Sil. Dia cinta
pertamamu?” sepertinya cerita ini akan panjang lebih panjang, absen pun
diceritakan apa lagi yang lain
“oh iya ya, belum saat itu aku cuma mau kenal dengan teman –
temanku saja. Dia lah teman pertamaku, aku bertanya terus kepadanya dia dengan
tidak merasa direpotkan menjawab dengan baik dan jelas. Kami terus bersama – sama saat ke perpus, kantin
dan ke ruang dosen kecuali toilet, tetapi tidak sampai sebulan kami berpisah”
“Kenapa? Dia pindah?”
“Nggak, dia semakin banyak teman ya teman wanita dan aku
jadi sering berteman dengan laki – laki”
“Ya ampun itu saja disebut berpisah”
“Karena berpisah itu lah aku jatuh cinta kepadanya, aku jadi
ingin dekat dia terus dan selalu memperhatikannya. Rasa penasaranku yang
berlebihan aku sebut cinta”
“Ciyeeee”
“haha lebay ya? Tetapi gimana tidak dia itu sungguh
memesona, dia sangat baik, ramah dan senang terus tidak pernah aku melihatnya
dia marah ataupun sedih. Aku merasa benar – benar mencintainya saat dia
menjawab pertanyaan ku. Saat aku sedang asyik baca buku sendiri di sekitar
kampus dia datang duduk disampingku dan tertawa renyah. Aku berhenti membaca buku dan memilih mengobrol
dengannya. Saat obrolan kami sudah selesai dia diam dan aku diam, kami sama –
sama diam sungguh diam yang membingungkan aku ingin ngobrol lagi tetapi tidak
ada lagi yang ingin diobroli, tentang semua dosen sudah, mata kuliah sudah,
tugas
sudah, tentang laporan dan praktikum pun sudah semua. Aku
pun iseng bertanya.”
“kau Tanya mau kah jadi pacarku? Apa kau mencintaiku?” aku
langsung ngerocos saja
“Ya tidak lah, aku Tanya apa pentingnya pendidikan, sekolah,
kuliah seperti ini? Aku bilang keluhanku tentang proses yang terlalu panjang
ini dan hasil yang tidak kelihatan sama sekali. Masa depan kan tidak jelas. Dia
pertama – tamanya diam saja, aku kira dia akan tertawa ternyata tidak dia
menjawab dengan santai. “Tentu saja penting bila kita mendapatkan hasil tanpa
proses mana mungkin kita bisa menghargai hasil itu, pasti kita merasa sombong
dan lupa diri. Sekolah ataupun pendidikan penting atau tidaknya itu menurutku
banyak gunanya seperti sekarang kalau tidak sekolah mana mungkin aku bisa
kuliah dan berteman dengan kamu. semua orang tahu siapa Albert Einsten dan yang
sekolah pasti tahu, walau hanya Albert Einsten yang tidak tahu dia pasti lah
malu.” Sepanjang hidupku aku tidak berani bertanya kepada orang lain karena aku
tahu ini pertanyaan anak kecil tapi sungguh dia sangat mengerti aku dia
memberi penjelasan yang aku inginkan dari dulu. Aku sungguh
jatuh cinta kepadanya tanpa paksaan apapun dan tanpa alasan yang jelas. Dia
begitu indah karena aku mencintainya.”
“ohh so sweet, terus kalian jadian?”
“waktu SMP aku nembak cewek tanpa rasa apa – apa, grogi
tidak dan takut ditolak pun tidak ku anggap Cuma mainan saja. Tetapi yang ini
sungguh aku benar – benar takut ditolak dan rasaku dengan dia bukan main –
main, aku serius mencintai dia dan aku tidak mau mempermainkan cintaku yang
luarbiasa ini hanya untuk jadikan dia
pacar yang aku tidak tahu guna nya apa. Aku waktu itu berharap dia yang akan
menjadi jodohku.” Dia melihatku dan tersenyum sambil melihat langit. Aku rasa
dia kecewa, aku tahu perasaannya gimana.
“Difa ternyata kerja saat malam hari, aku tahu saat makan
malam sama kakek. Waktu itu kakek datang untuk melihatku dia memang 2 minggu
sekali ke kosanku melihat perlengkapanku dan bercerita – cerita tentang
kuliahku. Malam itu kakek dan aku duduk di bagian sudut. Kami duduk menunggu
lama pelayan datang tiba – tiba dibelakangku ada suara. Aku lihat hey aku
tersontak kaget melihat Difa berpakaian warna serba hitam dan memegang buku menu
dan menyodorkan ke aku dan kakek. Dia tersenyum kepadaku dan aku pun
memperkenalkannya ke kakek. Kakek sepertinya sangat suka sama Difa dia lama
berbicara awalnya mereka ngobrol tentang kuliah dan lama – lama kakek juga
tidak enak jadi bertanya – Tanya soal menu. Aku melihat mereka berdua begitu
akrab, jujur ya aku mesyukuri hal itu setidaknya calon cucu sudah akrab dengan
calon kakek hehehe”
“hahaha kau detail sekali menceritakannya sampai tahu dia
berpakaian apa, padahal itu kan sudah lama”
“Apapun itu pokoknya tentang Difa bisa sedetailnya aku
ingat. Saat pertama kali ketemu di kelas dia pakai kemeja biru, celana lepis
biru dan sepatu kets putih. Tiap ke kampus dia pakai tas selempang warna coklat
dan yang selalu dia bawa dompet biru langit bergambar bintang kartun”
“Prokkk..prookkk..” aku tepuk tangan dengan pengingatan
Arsil yang jago sekali, dia memang cerdas tapi jelas ini bukan bukan hanya
factor cerdas saja tapi juga cintanya dia.
“itu belum seberapa. Selain kerja dia juga aktif di
organisasi. Aku juga aktif sih tapi ya dia duluan yang gabung ke organisasi itu
baru aku ikut gabung. Dia ikut BEM aku juga, dia ikut organisasi keagamaan aku
juga, dia ikut olahraga silat aku juga. Dia jadi anggota biasa aku coba mencari
perhatiannya jadi ketua karena dial ah aku belajar leadership. Aku jadi
presiden di kampus karena ingin dia melihatku selalu. Waktu setahun menjabat
jadi ketua di kampus aku benar – benar banyak mendapatkan ilmu. Dan dia walau
jadi anggota biasa selalu aku jadikan teamwork aku. Dia puny aide yang luar
biasa dan tiap idenya pasti berhubungan dengan social menolong ini, bantu itu.
Aku ingin dia Fit.” Aku mungkin dianggan cemburu tapi tidak aku tahu apa yang terjadi dengan Arsil.
“selama perkuliahan kami kalang kabut. Ikut organisasi
memang sedikit mengganggu urusan kuliah. Tetapi bisa diatur selama aku bisa
mengatur waktu, masa Difa yang malamnya kerja aja masih sanggup dapat IP tinggi
aku yang masih ada waktu luang mau kalah. Nanti aku dianggap calon suami yang
pemalas lagi jadi aku berusaha dapat mengatur waktu untuk belajar dan biat
tugas dan akhirnya aku dapat IP tertinggi terus. Difa palingan beda tipis lah
dengan aku. Jelas aku tidak mau kalah dengan dia, aku mau istri ku pintar dan
aku lebih pintar itu keinginanku waktu itu.
“waktu kuliah begitu cepat tidak diasangka jabatan presiden
sudah diambil orang dan aku sudah tidak kuliah seperti biasa. Menyusun skripsi
yang begitu menegangkan. Penelitian aku di kampung Ipukandra aku meneliti
tingkat pertumbuhan berbagai macam holtikultura di tanah yang ada di kampungku
dan memberi beberapa perlakuan. Penelitianku amat lama hamper setahun karena
sampel ku banyak dan maklum di kampung
sendiri jadi keenakan. Aku benar – benar kangen dengan lahan Ipukandra masa –
masa kecil yang hidup social dengan tumbuhan kembali lagi. Andai Difa ada saat
itu mungkin kami akan berlari – lari dipinggir lading dan sama – sama memanen
wortel sambil mendengar dongeng Ipukandra. Dia sebenarnya udah tau dongeng
Ipukandra, kalau tidak salah sudah 5 kali aku ceritakan. Dia tidak pernah
terlihat bosan bahkan dia sama seperti aku salut sama Ipukandra. Aku selesai penelitian sibuk ditelepon dengan
dosen. Akhirnya aku kembali ke kampus tercinta denga aktivitas menyusun
skripsi. Alhamdulilah 2 bulan bimbingan selesai dan aku siding skripsi. Aku
waktu itu sudah kuliah 4 tahun lebih dan
5 tahun aku melaksanakan tugas sebagai mahasiswa.”
“Difa gimana?”
#Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar