Rabu, 19 Desember 2012

Happy B'Day Mama

19 Desember hari spesial mama ku, mama lahir tanggal itu
sebenarnya gak pernah sih ngucapi ulang tahun ke mama secara langsung hehehe karena maluuuu
maaf ya ma ga pernah ngucapi tetapi kami janji akan doa selalu buat mama,  mungkin aneh ya orang lain ngucapi aku nya enggak hehe bukanlah kebiasaan untuk ber sweet2an di hari ultah, ada teman yang apabila slh satu keluarganya ultah begitu heroiknya perayaannya sampai suprise jam 12 teng,kado mahal, atau apala, malu sebenarnya tidak bisa berbuat apa - apa dihari spesial untuk org paling spesial
 Dewi Tambunan
yang penting suatu saat nanti aku bisa memberi segalanya buat mama apapun itu yang pastinya kebahagian aminnnnn
happy birthday mama, semoga barokah, sehat selalu, di beri umur panjang, selalu canti dan nambah terus dan selalu dalam lindungan Allah
u r my everything

Sabtu, 17 November 2012

Ya Allah pingin nangis rasanya, menginginkan sesuatu tetapi ada saja yang kurang dan malah tidak ada. Marah dan marah saja yang ada di otak ini. kesalnya kenapa jadi sulit dan kenapa aku jadi ngeluh disini. kalau boleh aku curhat saja jangan dibilang mengeluh karena tidak ada yang sia - sia kan?.

semuanya salah dimata aku sekarang kalau boleh rusak barang sudah ku banting semua benda di depan mata aku ini apalagi flasdisk najis ini. MUSUH ku malam ini. Ada yang bilang aku lebay marah - marah dan apalah. Cuma aku yang tahu kesalnya gimana, panasnya gimana, geregetnya gimana. Aku sedang berpikir keras bagaimana kesal ini hilang apa bakar rumah orang?, kendarain motor ngebut - ngebut lalu ketabrak dan lupa ingatan (sinetron) ? apa ngatain orang yang gak bersalah? apa tidur? Hah tidur saja pasti gak bisa tidur.. Aku sudah sangat malu salah satunya adalah posting ini dan banyak lagi yang sudah buat aku malu sendiri hari ini. Hilang semuanya

Sudahlah

Rabu, 14 November 2012

Surat Gila

ini lah surat dari ku untukku. surat gila saja sebutnya karena dariku,olehku dan untukku. aku mendapatkannya ketika sedang lemah dan berharap semuanya berubah menjadi zona "aman" yang jelas itu merugikan untukku
 

Dear Dian

Hai diriku yang malang ...

setiap hari kau terbangun dengan keluhan - keluhan yang tidak penting bukannya bersyukur atas nikmat yang luar biasa yang diberikan sang maha penyayang. keluhanmu itu berarti bila kau ingin hari mu menjadi musuhmu bukan sahabatmu. Bersyukur bukan saja hanya membuatmu tersenyum mengawali hari mu tetapi juga menghiasi hari mu yang indah dengan rasa syukur

Hai diriku yang malang ..

setiap hari kau merasa terayun - ayun oleh nikmat. Bukalah matamu lebar - lebar lihat apa nikmat itu. Kau bahkan sering lupa nikmat itu datang darimana sehingga nikmat mu menjadi kesombongan yang biadab, Astagfirullah.

Hai diriku yang malang ...

Setiap hari kau melangkah tanpa tahu langkah itu apa manfaatnya untukmu,untuk mereka dan untuk Allah.  Kau melangkah seperti manusia yang tahu segala tempat dan penguasa segalanya. Seenaknya itulah yang kau mengerti bukan? seenaknya bersikap sehingga tidak kau sadari banyak sekali alasan kenapa kau itu "malang" karena sikap mu, seenaknya bicara sehingga apa yang keluar dari mulutmu adalah pisau yang tajam yang siap menusuk dirimu sendiri karena menyakitkan orang lain.

Hai diriku yang malang ..

Setiap hari kau berharap. Berharap mu adalah keegoisanmu. berharap yang hanya baik untukmu bukan orang lain. berharap nilai mu lebih baik dari oranglain, siapa yang akan mau membandingkan nilainya dengan orang yang "malang" sepertimu sebaik - bailnya diri mu pun belum tentu kau lebih baik dari orang lain. Berharap hari ini adalah hari keberuntunganmu tanpa berpikir setelah kau beruntung apa orang disekitarmu juga beruntung, apa keberuntungan itu memang baik untukmu atau kau hanya ingin senang - senang saja. Berharap punya segalanya tanpa berpikir segalanya itu ada yang lebih berharap bahkan bukan sekedar berharap tetapi sangat butuh dan kau tetap sibuk memikirkannya untukmu yang tidak tahu apa gunanya. Berharap semua lancar tanpa rintangan, semua tanpa masalah,  lihat dirimu itu apa kehadiranmu buat masalah bagi orang lain apa kau adalah rintangan bagi orang lain jika iya apa tetap ingin hidup tanpa masalah dan kau adalah masalah bagi orang lain, masalah pun tak kau syukuri tetapi kau hidarkan untuk apa kau hindar., Jika kau ingin jadi "malang" tentu kau harus hindari masalah itu.

Hai diriku yang malang ...

Setiap hari kau berdoa. berdoa ini itu banyak sekali tetapi berapa kali kau mendoakan orang lain? kesuksesan orang lain, kemenangan oranglain, nilai baik untuk orang lain, kelancaran untuk orang lain, dan segalanya untuk orang lain. kenapa kau tidak mendoakan orang lain? karena kau takut kau dubawah orang lain dan kau saaanngggaatttt "malang" karena itu.

Hai diriku yang malang ...

Setiap hari bermimpi dunia bertepuk tangan untukmu. Hei kau itu hanya lah mikroba yang belum terlihat oleh dunia tapi lihat yang sudah kau lakukan setiap harinya belagak seperti dunia hanya untuk mu saja. Kau itu kecil Dian kecil sekali di dunia ini sekecil - kecilnya mikroba Bagaimana kau ingin dunia bertepuk tangan untukmu terlihat saja tidak. 

Hai diriku yang tidak mau malang ...

ingatlah  semua yang ada dihidupmu adalah amanah. jalankan segala amanah karena satu alasan Karena Allah, because Allah. Bukan karena ingin diagung-agungkan. Setiap hari adalah amanah dari sang pencipta untuk kita syukuri dan ikhlas. Mengeluh mungkin kebiasaan mu setiap waktu sampai kau lupa menulis ini saja kau juga mengeluh tetapi ingat lah setiap keluhan itu tak ada gunanya kecuali kau ganti dengan rasa syukur. Dian kau sendiri yang menulisnya dengan tangan mu sendiri di sore itu. Kata - kata terindah yang pernah kau buat. kau harus baca kertas itu setipa harinya atau mengingatnya. Apa pun yang kau dapatkan ingan keinginanmu itu, apapun yang telah hilang dari mu ingat keinginanmu itu BERSYUKUR

 Ini lah surat dariku,untukku dan olehku tetapi manfaat dari surat ini semoga untuk kita semua.
TERIMA KASIH
ESPRIT!!!


Selasa, 13 November 2012

saat kau tidak tahu untuk apalagi kau bernapas
bernapas lah dengan cepat
saat kau tidak tahu lagi untuk apa melangkah
melangkah lebih cepat
saat kau tidak tahu apa tujuan mu
carilah tempat untuk beristirahat
saat kau mulai bosan dengan hidupmu
lihatlah keskitarmu
saat kau tetap ingin mati
cobalah lihat senyum mu sendiri
saat kau ingin menangisi dirimu
lihatlah orang disekitarmu sedang tertawa

Kamis, 08 November 2012

EPILOG

#15 bulan kemudian

Hari yang paling membahagiakan.  paling paling paling dan paling istimewa. yang selalu ku tunggu-tunggu sejak keteme dia hehe, aku berdiri memakai pakaian yang aku desain sendiri dan setahun lah pembuatannya bukan karena salah jahit karena bukan aku yang jahit tetapi aku yang sibuk mencari desain mana yang perfect buat aku hari ini. gedung dengan decor yang aku impikan, wajah yang menurutku tercanrik hari ini dan yang buat paling, paling, paling dan paling itu orang disebelahku, kacamata tebalnya, wajah manisnya, kulit coklatnya dan rasa yang spesial untuknya. Ginda sangat ganteng lebih ganteng dengan yang 15 bulan lalu. dia sudah menjadi suamiku seminggu yang lalu dan hari resepsinya atau syukurannya lah.

Sudah giliran Arsil untuk memberi selamat (salaman) dan juga Difa atau Fira serta si kecil yang ganteng, imut dan unyu unyu banget. Jilo masih setengah tahun dan masih digendong, aku dipanggil bunda sama Jilo walau Jilo belum bisa bicara tetapi sudah diajarkan oleh ayah dan ibuk nya. Aku sudah dekat dengan anak Arsil dan Difa ini sejak lahir dia sudah dekat denganku sebenarnya aku yang membantu Difa melahirkan dan aku menjadi bidan dadakan. begini ceritanya

malam itu seperti biasa aku jalan - jalan ke mall untuk mencari properti pernikahanku dan kebetulan jalanan macet dan aku belok ke rumanh Arsil yang kebetulan juga dekat dengan mall. waktu datang mereka sedang ribut memberi nama untuk jagoan dalam perut Difa dan aku datang menambah keributan. aku ingin nama anak mereka Zero tohero karena aku senang dengan buku ini dan inginnya anak ini menjadi hero tetapi bapaknya marah besar dikira mereka penerbit buku. emaknya lebih marah dan ganti dengan Milov yang dari kata My Love, jadilah keributan Zero Tohero VS Milov  dan bapaknya pun menengahi dan bilang namanya terlalu sok kebulean dan dia mau nya Kudin Darmawan dan dengan lantang Difa teriak "Tidaaaakkkkk tidakkk aduhhh" aku kira Difa marah dan tidak suka nama itu dan aku juga ikut teriak "Tidakkk itu nama gak keren, udinnn tidakkkk" dan difa terus berteriak ternyata dia sakit perut dan kami semua panik. Difa panik teriak "Anakkku mau keluar Milov mau keluar cepat cari bantuan", aku lari sana sini panik sambil ngomong " duhh zero to hero kamu pasti kuat tenang tante akan menyelamatkanmu" dan bapaknya lebih parah mengambil mikrofon di ruangan tv dan menghidupkannya dan seperti pengumuman di masjid memberitakan bahwa Kudin Daramawan sebentar lagi akan lahir. Tambah keras lah teriakkan Difa dan syukurnya Difa memberi kami petunjuk. Bawa dia ke mobil dan ke rumah sakit.
sialnya baru beberapa menit jalan kami sudah terjebak di kemacetan yang padat tidak bisa mundur, maju maupun keatas. Difa semakin teriak dan dia gak kuat lagi. Aku disebelahnya kebingungan. Arsil keluar dan mencari bantuan manatau ada polisi yang bisa mengawal mobilnya untuk keluar dari kemacetan seperti petinggi - petinggi negara itu.. Sudah sejam dan wajah Difa semakin pucat. aku yang hanya sekolah ekonomi saja dan belum pernah hamil bingung mau lakukan apa. Didalam mobil ada laptop dan aku membuka video orang melahirkan. Aku panggi Arsil yang sibuk lari sana lari sini kusurh dia beli kain, air, bak, gunting, peralatan P3K, dia pergi ke swalayan terdekat tidak lama dia datang tanpa ada ketinggalan dan anehnya tidak dikemas seperti nya dia lupa bayar. Kututup pintu dan jendela mobil dan Bismillah aku menjadi bidan dadakan. ternyata muda karena Zilo memang kebelet memang ingin keluar dan di mobil juga di adzankan. semua korban kemacetan keluar dari mobil dan menonton Zilo yang baru lahir. karena aku yang membantu Difa maka mereka dengan pasrah membiarkan aku yang ngasih nama Zilo Firdaus Habibillah. Dan aku yang pertama kali melihat wajah Zilo yang merah sambil menangis aku juga ikut menangis.

Arsil memang beruntung setelah pagi di FOUNDATION itu dia sudah resmi jadi calon suami Difa, sebulan kemudian mereka sudah mempersiapkan pernikahan dan memulai adat istiadat dan menikah lah mereka. dan sekarang sudah punya anak satu yang ganteng. aku mencintai mereka walau tidak ada ikatan keluarga dengan Difa dan Arsil adalah MANTAN suamiku tetapi mereka sudah keluarga untukku. Ginda bagaimana hubunganku dengannya?
10 bulan setelah kejadian pagi itu, baru aku tahu perasaannya. Dia memang biasa - biasa saja waktu ketemu aku di SMA tetapi biasa - biasa saja lebih berharga kan dari pada lupa dengan aku. dia tahu aku dan saat aku sering memandang dia, dia juga merasa begitu dan dia jadi perhatiin aku dan memang tidak ada yang tahu perasaannya.
Tengah malam Arsil datang dan memberi tahu aku cinta mati dengannya, dia hanya diam tanpa respon. Dia bingung sudah bertahun - tahun masa SMA lewat kok tetap cinta malah pake mati. dia pun mengerti saat Arsil menceritakan semua dan Ginda ingin mengenalku. MENGENALKU. arsil sungguh jahat dia janji ingin bawa ginda dan aku nikah dengannya hari itu juga tapi ternyata ginda datang hanya ingin mengenalku. Dia ajak aku bicara dan kami semakin dekat dan menurutku dia tidak suka aku dan menganggap hanya teman tetapi malam itu tiba dia datang dengan pakaian seperti pemulung jelek sekali bajunya tetapi wajahnya tetap ganteng. Dia dengan soknya bicara
"Maaf mbak saya ingin mencari sampah disini?"
"Cari aja di tong sampah depan, banyak sampah"
"diluar ga ada sampah yang saya maksud"
"Ginda apa apaan sih?"
"kok kamu tau?"
"ya iya"
"aku ganteng banget ya sampai jadi pemulung pun nnga cocok"
"cocok kok, cocok banget malah, mau ngapain sih?"
"Mencari sampah?"
"Sampah apa? sampah masyarakat?"
"Perasaan kamu yang sudah kamu buang bertahun - tahun tetapi tetap kamu simpan di dalam hati kamu"
"maksud kamu?"
"Cinta kamu ke aku, yang kamu buang tetapi kamu masih menginginkan sampah itu karena kamu tidak bisa hidup tanpanya"
"Hmmm sampah itu????"
"Ada dimana? boleh aku ambil dan aku bersihkan dan aku  simpan di sini?" dia memandang mataku dan menunjuk jantungnya dennga telunjuknya. sungguh aku sangat jantungan dengan tingkahnya
"apa ada tempat untuk cinta itu selain disini?" dia kembali bicara aku bingung mau ngomong apa
"sampah itu tidak jadi sampah lagi dan sudah bersih, sudah wangi, sudah segar seperti baru bahkan lebih baru sejak malam ini detik ini" di depan rumah sebelah nya ada tong sampah tempat dia memanggilku bergaya seperti pemulung, hari tanggal yang aku lupa dan bintang yang menghias malam itu dan angin yang memperindah suaraku untuk menguapkan kata - kata itu
"aku cinta kamu Fitri"
"aku... aku juga kok hehe" jawaban yang kedengaran tidak romantis padahal ginda mengatakan 3 kata itu seperti mau iku perang
lalu dia buka  isi tong sampah dorong nya. di dalamnya ada bunga - bunga warna warni cantik sekali dan ada kata "will you marry me?" oh tuhan dia sungguh gila romantisnya. cowok seperti ginda yang diajak bercanda aja garing dan selalu ingin serius bisa melakukan semua ini sungguh ini sangat romantis walau ngga ada lagu 'A thousand years" -nya tetapi ini sungguh romantis. liat matanya aja udah love love selangit

berbulan - bulan aku galau, menderita dengan harapan cinta dan menangis dalam hati akhirnya cinta pun terjawabkan aku menikah dengannya hari ini. dan mulai hari ini aku jadi Ibu Fitri Ginda.  Ginda  yang aku tahu aibnya waktu SD dari Arsil adalah suamiku, Ginda yang tidak naik kelas adalah Suamiku, Ginda yang anak akselerasi adalah suamiku, Ginda yang lulusan paris adalah suamiku, Ginda yang jadi pemulung teromantis dan terganteng adalah suamiku dan Ginda adalah jodohku. Aku menemukan jodohku di pernikahanku dan Arsil pun begitu

-BILA KAU MENCINTAI DIA KENAPA HARUS ORANG LAIN YANG KAU JADI KORBAN ATAS KEBOHONGAN CINTAMU-
-HANYA ORANG YANG BERANI MENCINTAI YANG PANTAS UNTUK DICINTAI- (tere_liye)

Sabtu, 03 November 2012

Ratu dan Raja Seharian (Ep. 10)



Jam dinding berbunyi menggantikan suara kami berdua yang dari tadi rebut. Arsil sudah pergi dengan mobilnya, aku masih duduk di lantai dan sibuk mengelap air mata ini, aku Cuma ingin nangis saja, aku merasa bebas  setelah berbulan – bulan tertekan dengan pernikahan ini. aku juga sangat malu dengan pernikahan sehari pun belum, aku bingung mau bilang  apa ke papa dan mama, tangan dari tadi mencoba memencet nomor telepon rumah tetapi selalu gagal. Aku bingung mau ngasih tau kabar ini gimana apa aku harus bilang “ aku sudah jadi janda Ma Pa tetapi kalian tenang saja besok aku akan nikah lagi dengan orang yang kucintai “ apa mereka akan senang atau sedih atau ketawa atau terkena serangan stroke mendadak. Oh andai saja hari ini adalah mimipi, mimpi yang selalu kunantikan aku bertemu Ginda dan Adik angkatku Fira bisa bertemu juga dengan Arsil. Aku selalu meneritakan Ginda ke Fira atau Difa itu dan aku sebut Ginda dengan sejelas – jelasnya tetapi kenapa Fira tidak pernah sebut nama Arsil dia Cuma bilang coklatku “coklatku kemana kau sekarang, stroberi ini merindukanmu” selalu itu dan itu.
1 jam aku berpikir bagaimana cara mengabarkan orangtuaku dan aku baru ingat Difa tidak tahu alamat rumah ini. Handphone aku cari lupa sudak ku nonaktifkan dan segera ku aktifkan. Tentu saja sudah berpuluh sms dan kebanyakan dari Difa ada juga dari Arsil. Aku buka dulu yang dari Arsil

Ginda sudah kutemukan!  Dia sedang tidur di apartemennya
dia sudah bangun dan dia kenal kau lebih yang kau tahu

Itu saja?  Apa kabarnya ya Cuma Ginda sudah bangun doing? Aku cek sms Difa yang semua isinya sama

Kak, jangan lakukan hal yang bodoh, aku kesana tp tidak tau mau kemana. Aku dijalan

Aku balas sms nya dengan singkat

Dmn?

Aku pergi menyusulnya, andai aku tahu daerah yang kutempati ini gampang saja menelepon kembali Difa dan  menyuruhnya datang dengan sendirinya. Aku bersyukur  sedan paman Arsil besok baru dipulangkan.  Tiba – tiba ada lagi sms dari Difa ternyata dia lama juga balasnya dan itu pun cukup singkat dan sulit dimengerti

Tidak tahu

Sumpah aku benar – benar ingin ngamuk, kenapa di situasi seperti ini makin ribet saja untuk bertemu dengannya.  Kenapa Arsil begitu gampang mendapatkan Ginda dan aku tidak. Aku dan Arsil harus punya alasan yaitu cinta kamu sudah ketemu dan itulah jodoh kami

Mau kemana? Aku akan menyusul, aku sudah dijalan kok

Tidak lama ada lagi balasannya. Yang membuat aku tercengang

Ipukandra

Oh tuhan dia kesana, kenapa baru sekarang atau jangan – jangan dia sudah tahu dan diam – diam saja. 

Kau tahu tempatnya? Tunggu aku akan menyusul, kami semua di kota kenapa kesana adikku? Apa yang kau cari?

Aku  menambah kecepatan berusah cepat dan bisa menyusulnya. Arsil dikota semua keluarga di kota yang di Ipukandra hanyalah saksi saja. Tiba – tiba ada telepon dari Difa, aku berhenti di pinggir jalan yang memang sudah sangat sepi tetapi aku harus bicara serius dengan Difa lebih serius dari mengendarai   mobil dari  eropa ini.
“Dek, kamu ngapai kesana?”
“Kak aku bingung sekali tadi mau kemana, nelpon kakak gak bisa, sms gak balas malah pending terus, dan aku ngga tahu kalian tinggal mana, ya sudah aku pergi saja ke kampungnya dia mungkin kalian disana.”
“ya ampun, maaf ya salah kakak. Kamu tahu kampungnya dimana? Kakak sudah keluar dari kota. Kamu diamana?”
“aku tahu, kakak ga papa?”
“tahu? Sejak kapan? Aku gak papa kalau kamu juga gak papa”
“sejak dia cerita ipukandra itu, memang aku belum pernah kesana tapi aku tahu posisinya aku bisa baca peta kok”
“oh, kakak akan menyusul pokoknya kamu tunggu kakak disana ya?”
“sama siapa?”
“sendiri”
“oke” 
Selesai pembicaraan ini. aku hidupkan lagi dan  ngebut sekali dan berhenti mendadak  kembali. Lupa  dengan Arsil aku harus adil
Difa di Ipukandra, dia tahu ipukandra dimana tanpa harus kesana dulu
Selesai sms Arsil aku kembali jalan, ipukandra akan menjadi saksi endingnya cerita ini.  entah apa kabar ipukandra sekarang seorang anak yang mengubah hutan menjadi kampung yang indah.  Kelihatan sekali kalau itu hanya dongeng  yang tidak nyata tetapi akankah kisah ini jadi dongeng  cinta yang nyata?  Difa  tahu pasti jawabannya.
Sekitar 3 jam perjalanan akhirnya aku sampai sudah pagi dan aku berhenti untuk sholat. Aku menelepon kembali Difa. Dan tanpa disangka dia ada di Findation perusahaan itu, perusahaan pertama kali Arsil dirikan. Aku kembali mengejarnya
Difa sedang duduk didepan gedung besar itu. Duduk termenung di tulisan FINDATION kelihatan dia habis nangis.
“Kak gimana kabar kakak? Baik – baik saja kan? Apa yang terjadi? Maaf aku malah buat repot”
“aku baik kok, aku cerai dengan Arsil, tidak apa – apa ini tempat yang bagus untuk menyelesaikan masalah ini”
“benar – benar cerai? Karena aku?”
“bukan, karena cinta”
“dia cinta kau dan aku cinta orang lain”
“lalu kenapa nikah?”
“karena aku dan dia sudah waktunya nikah tetapi bukan pada orang yang benar”
“kak ini jodoh lho jangan main – main, aku gak papa aku oke kok, aku senang kalau kakan senang  dia bukan milikku kalau dia milikku kenapa kami tidak dipertemukan kembali”
“Di pernikahan aku dan Arsil lah kalian di pertemukan.  Fir, aku gak bahagia sama dia. Kamu gak oke kamu nangis kan?”
“aku nangis? “
“kamu kesini dan duduk disini karena kamu baru tahu kalau ini untuk kamu kan?”
“ apa nya yang untuk aku?”
“kamu ngapai ke gedung besar ini dan duduk di namanya lagi?”
“ aku  tahu ini gedung paling besar dan satu – satunya disini jadi ya ketemu disini sepertinya pas”
“kan kalian jodoh”
“ini Arsil?”
“Iya buat kamu, buat masa depan kalian berdua bukan aku.”
“Pantesan disini ada nama aku”  Difa menunjuk  bagian bawah nama besar itu dan memang ada namanya  DIFARA NURSAN
Aku  dan Difa masuk kedalam dan duduk di taman gedung ini. tamannya kecil dan hanya ada bangku kecil  untuk dua orang atau ini seperti dia  duduk dengan Difa menceritak pentingnya sekolah yang mebuatnya dia jatuh hati pada Difa. Aku rasa iya
Arsil datang  dengan mobilnya dan didalamnya ada orang lain. Jlegk jantung ini mulai resek buat tidak tenang. Aku lihat ke Difa dia lebih tidak tenang.
Arsil datang dan Ginda turun dari mobil. Oh tuhan aku rasakan apa yang Arsil rasakan dulu ditaman kampusnya bersama Difa dulu.  Rasa rindu ini meluap hingga aku lupa aku ini siapa.
Arsil diam, aku diam, Difa diam, dan Ginda yang baru datang pun diam. Diam benar – benar situasi yang paling kubenci saat ini sungguh menyiksa lebih menyiksa saat Arsil bilang cerai. Aku ingin bilang “ hai gimana perjalanannya melelahkankah?” atau “kalian udah sarapan” atau “aku mau pulanggg aku mau mama aku benar – benar takutt”
Syukur Arsil mulai ngomong, mulutnya terbuka dan keluar adalah
“aku bawa kunci gedung ini, apa mau dibuka?” untuk apa dia berkata seperti itu. Memang kunci gedung tiu bisa buka isi hati kami tanpa harus ngomong dulu. Semua masih tetap diam dan aku menunduk tidak berani memandang dua cowok di depanku.
“hmm maaf Fit, aku tidak bisa memenuhi janji aku” Arsil kembali mencoba berbicara
“aku yang salah, aku tidak berhasil membawa nya ke kamu”
“kau berhasil kok malah sangat berhasil” Arsil memandang Difa yang terus menunduk kelihatan Difa sangat kebingungan dan Arsil seperti ingin memeluk Difa
Aku memutuskan pergi dan membiarkan Arsil duduk disebelah Difa. Sungguh aku sama sekali tidak pantas untuk cemburu tetapi aku makin salah tingkah seperti  ABG karena Ginda yang seperti patung.
“aku mau cari sarapan di sekitar sini dulu ya, aku lapar” Arsil mengangguk dan hup! Duduklah dia disebelah Difa.
“Aku juga mau cari sarapan” oh Tuhan aku benar – benar rindu suara ini. Ginda ikut jalan bersamaku
Aw  aw  situasi ini sungguh sangat pas sudah dua dan dua. Ini kah takdir???

#TAMAT

Selasa, 30 Oktober 2012

"aku ingin jadi oksigen, bebas bermanfaat untuk siapa saja tidak memilih akan dihitup oleh siapa"

Sabtu, 27 Oktober 2012

Ratu dan Raja Seharian (Ep. 9)



“Terus gimana dengan dia, kamu pacaran gak sama dia?”
“Kan udah aku bilang, Kak Tano pacar terakhir aku. Sejak ketemu dia itu aku jadi lebih sering ngejar dia. Pernah sekali tanpa sengaja satu bangku sama dia, dia bilang “permisi kak boleh duduk disini” wah aku terkejut dia duduk dengan ku dan aku bisa lihat dia itu ganteng sekali Sil. Aku pura – pura saja ngobrol bareng teman aku. Aku sekali – sekali Tanya ke dia anak kelas berapa, pura – puranya gak tahu dia jawab kaku ya maklum aku kan seniornya. Sama kayak kamu. kamu kan adikku seharusnya”
“aku brondong ya?”
“hahahaha ya segitu saja lah ya, dia  ya Cuma kenal saja gak kayak kamu dengan Difa”
“Yah gak seru, jujur dong, apa aja yang pernah kalian bicarakan? Atau dimana saja tempat kenangan kamu dengannya?”
“Sil… aku dengan dia gak dekat banget Cuma ya ngobrol sebentar  itu pun Cuma beberapa kali dan setelah itu aku Cuma tau dia lewat dunia maya”
“Ya ngobrol sebentar itu gimana? Masa’  dengan  orang yang special seperti dia saja kamu bisa nganggap nya biasa pasti ada yang disembunyiin nih”
“Cuma di sekolah lalu ditaman dan saat kelulusan, terakhir aku melihat wajahnya sebelum menikah dengan kamu”
“Terus?”
“Dia yang duluan datang ke aku dan meminta aku tanda tangan di bajunya. Sumpah Sil aku grogi dan gugup nyoret bajunya. Baju ku juga dicoret sama dia dan coretan itu takkan pernah terhapus  itu kenangan terakhirnya. Ucapan terima kasih kakak itu kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya. Sejak saat itu aku merindukannya, Sungguh rindu yang panjang”
“Siapa namanya?”
“Ginda Restu Purwanto”
Arsil hanya diam memandang langit, aku tahu dipikirannya apa
“Selesai SMA aku lanjut ke Kuliah jurusan ekonomi, kuliah yang biasa saja gak ketemu cowok yang special seperti Ginda dan tidak pernah ikut – ikutan kegiatan – kegiatan mahasiswa, aku kupu – kupu yang cantik disana hahaha dan aku minta kuliah di luar karena Ginda juga kuliah di luar tetapi sayang aku tetap tidak bisa bersamanya karena aku malah dapat di Melbourne dan dia di Paris”
“Hmmm Ginda ternyata akselerasi ya pantesan dia malah lebih cepat dari pada aku. Hubungan kau dengan Ginda gimana?”
“ya tidak ada Arsil. Aku Cuma berhubungan  “sedikit” lewat dunia maya saja. Bertanya satu atau dua hal”
“Perasaan?”
“kenapa bertanya ke perasaan. I’m your wife”
“dari cerita mu sepertinya Ginda itu sudah seperti bayanganmu kan?”
“Apa bedanya kau dengan Difa?”
“Difa sudah hilang”
“Ginda juga sudah hilang”
“Hilang gimana? Kau berhubungan dengannya kok walau lewat dunia maya dan kau tadi bertemu dengannya kan? Dia menyentuh tangan mu dan mengatakan selamat ya kakak, itu kata pembuka setelah kata terakhir terima kasih kakak itu kan? Aku lihat wajah kalian berdua aku pun punya perasaan aneh dengan orang yang katanya dulu pernah satu SMA saja”
“Terus apa bedanya dengan Difa. Difa itu ada dia ada kok saat pernikahan kita tadi siang, dia juga menyentuh tangan mu dan mengatakan selamat ya Arsil, apa perasaan kau saat itu dan sekarang?”
“Kok malah balik nanya terus?” kami mulai meninggikan suara kami, entah kenapa aku jadi marah dan dia pun juga
“Ya terus mau kau gimana?”
“Yaa aku …. “
“tentu kau tidak bisa menjawab kan? Kau masih punya perasaan dengan Difa. Aku tahu Sil maksud dari FINDATION  berhasil menemukan Difa karena kau sudah menemukan Difa dipernikahan kita kan? Perusahaan itu masih sebagai peluapan perasaan kamu ke Difa. Aku tahu itu “
“Dan kau tahu Siapa Difa?”
“Iya aku mengenalnya sama kau mengenal Ginda juga kan. Difa tetangga aku saat di Melbourne  dia adik ku disana. Kami sering tinggal bersama bahkan saat tahun terakhir aku disana kami serumah, aku sudah curiga saat pertama kali kau menyebut nama nya Difara Nursan. Aku yang mengundang Fira dan dia pernah menceritakan tentang mu. Aku tahu Arsil”
Dia lama diam dan aku pun bingung mau bicara apa lagi. Aku sungguh tahu mereka berdua, aku cuek saja saat mereka bersalaman dan saling tersenyum ( pura – pura ). Dek Fira memandang ku dengan wajah yang aneh jelas dia merasa kecewa melihat ku bersama Asril. Andai aku  tahu terlebih dahulu tidak akan aku membuat adik kecilku itu menangis malam ini.
“Difa tidak hilang Sil. Dia selalu ada untukmu hanya kau yang terlalu sibuk mencari image yang baik buatnya.  Andai kau lebih berusaha mengejarnya bukan menyerahkannya kepada kesuksesanmu  untuk mendapatkan Difa mungkin FINDATION akan ganti nama jadi DIFATION”
“Ginda juga tidak hilang, Ginda bahkan tidak hilang dari mu Fit, dia bisa kau hubungi kenapa kau bilang dia hilang. Dia hilang  dari perasaan mu kan? Perasaan mu yang special untuknya tapi dia entah apa kabarnya. Ginda  ada depan mata mu lho Fit, kamu mudah mendapatkan cowok kenapa Ginda yang kamu … “
“Aku cinta dia”
“Hah?”
“Kita udah sepakat kan kita jujur sejujurnya  bercerita, ya aku cinta dia, sulit untuk  bilang hai kepadanya , kau tahu untuk tulis hai di emailnya saja butuh satu bulan lebih aku buat ulang – ulang. Aku tahu ini cinta maka aku tidak berani untuk coba – coba aku takut jatuh Sil, itu sangat menyakitkan”
“ Terus bagaimana sekarang? Kau yang menyakiti dirimu sendirikah?”
“Entah lah” aku menutup muka dan menangis, menangis sejadi – jadinya yang sejak pagi tadi aku tahan. Malam kemarin baru saja aku membuka blog Ginda dan membaca semua riset yang kesekian kali dan memandang foto – fotonya aku kembali mengenang pertama kali melihatnya.
“Aku juga cinta Difa”
“Difa juga cinta kau”
“hmmm  kenapa kau menerima lamaran ku?”
“kenapa kau melamarku?”
“kenapa kau terus balik nanya?”
“karena aku bingung”
“Aku melamarmua karena orang – orang disekitarku ingin aku segera nikah dan Difa tak kunjung kutemukan, akhirnya aku menyerah dan setuju dijodohkan denganmu”
“Aku hanya wanita yang menunggu, gengsi untuk mengejar sang lelaki dan datang lah pengeran unutk melamarku, keluarga ku sangat setuju dan kau memang seperti pangeran. Ginda sepertinya hanya jadi kenangan. Aku cewek Sil, aku tidak mungkin jadi pengemis cintanya Ginda”
“Tapi..”
“Kau laki – laki malah asyik seperti banci menunggu Difa saat dia di depan mu kau hanya  sok begaya baik  dan perfect padahal ngomong cinta saja kau gak sanggup – sanggup sampai harus mengandalkan perusahaan itu” aku jadi tambah marah
“kok kamu ketus gitu ngomongnya aku kan tadi sudah cerita bagaimana perasaan aku dengan dia dan kau seharusnya tahu kenapa aku tidak langsung ngomong saat bersama dia apa jangan – jangan dari tadi kau tidak mendengarkan sibuk mikiri Ginda yang suka ngompol itu” dia juga ketus
Aku marah sekali dengan perkataanya jelas dia tidak mengerti posisi aku sekarang, aku menerimanya karena umur ku yang sudah tua, sibuk orang memanggilku perawan tua dan datanglah dia untuk jadi suamiku dan seumuran pula dengan aku siapa yang akan menolak walau tidak cinta, Jodoh adalah orang yang kita cintai itu teori bukan?, yang pastinya aku menikah dan bukan perawan tua, Bertahun – tahun rindu dengan Ginda pun jadi biasa aku bukan siapa – siapa dan rasanya tidak mungkin untuknya, jadi berharap tiba-tiba dia jatuh dari langit dan membawa seikat mawar dan berlutut di depanku sambil bilang “Will you marry me?” itu seperti dongeng sebelum mimpiin dia. Sungguh aku bingung setelah ini akan ada apa lagi, dia cinta orang lain dan aku cinta orang lain, kami menikah hanya alasan takut dibilang tidak laku.  Dia berdiri dan pergi masuk ke dalam
“Arsil mau kemana? Difa tidak tinggal di kota ini jangan sok mencari dia kalau gaya mu cuma jadi pengecut” aku berteriak agar dia mendengar
“Ginda, aku mau bawa dia kesini dan mau kasih tau kalau ada wanita yang menunggunya dengan bego selama 10 tahun lebih dan sekarang wanita jadi istri aku”
“Terus  setelah itu?” aku melotot tidak percaya
“Kalau Ginda  mau dengan mu dan dia bilang dia juga cinta kau, apa kau mau besok nikah dengan dia?” dia menantangku
“IYA AKU MAU, kalau saja Difa bisa ku bawa juga kesini, mau kah kau menikahinya malam ini juga?”
“AKU SANGAT MAU”
“Oke aku telpon Difa dan carilah Ginda, jodoh adalah orang yang kita cintai itu hanya teori Sil, mana mungkin Ginda mau dengan aku, mungkin dia sudah punya calon atau istri”
“Kalau dia sudah ada yang punya mana mungkin aku berani bawa dia kesini, carilah Difa cepat sebelum dia bunuh diri karena aku sudah jadi milikmu”
Aku ambil handphone dan mencari nomor telepon Fira, berkali – kali nada sambung tak kunjung di angkat aku tahu ini waktunya orang tidur tapi aku tahu kalau ada masalah Fira  paling susah tidur dan aku takut aku terlambat perkataan Arsil bisa jadi kenyataan. Tiba – tiba Arsil keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda  dia pakai jaket, dia sungguh – sungguh ingin membawa Ginda kesini, jantung ku berdetak ada rasa senang “sedikit”.
“Fit, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Difa dan kau besok sudah menikah dengan Ginda maka detik ini juga kita harus cerai”
Ya tuhan
“Aku ceraikan kau Fitri Lala Sasya binti Bambang Jikomojo”
“Iya” aku gemetar dan sungguh aku sama sekali tidak kepikiran cerai, Arsil sudah keluar dan pergi tanpa kata apapun
“Halo Assalamualaikum kak, ada apa?” Fira ternyata sudah angkat teleponku
“Waalaikumsalam, Fir, kakak baru saja kakak hilang dari ejekan perawan tua sekarang malah kakak jadi JANDA haahaaa” aku menangis
“Apa? Kok bisa kenapa? Arsil meninggal kak?”
“Tidak Fir, kamu kenapa gak pernah bilang kalau cowok yang kamu tunggu itu Arsil, kamu kenapa diam saja sih Fir”
“Kak dia memang sudah jodoh kakak, Arsil orangnya baik kak jangan macam – macam ah baru juga malam pertama”
“jodoh itu orang yang kita cintai Fira adekku sayang, kamu jodohnya”
“kakak ngomong apaan sih? Stop dulu nangisnya”
“Kamu ke rumah kakak ya sekarang? Arsil sudah nunggu kamu eh maksudnya Arsil ingin sekali ketemu kamu”
“Ada apa kak sebenarnya?”
“Datang pokoknya sekarang” aku matikan handphone , aku tahu pasti dia langsung balik nelpon dan jadi takut dengan aku dan dengan paniknya datang kesini. Adekku itu sudah lama menunggu Arsil, aku sangat menyesal  kenapa bisa menikah dengan Arsil.pujaan hati adikku itu.

#Bersambung

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ratu dan Raja Seharian (Ep. 8)



“Aku tidak punya cerita menarik kayak kamu, masa kanak – kanak aku biasa saja seperti yang lain main boneka, masak – masakan, Barbie – Barbiean, dandan, dan main karet.  Saat SD aku beda dengan kamu aku paling semangat sekolah, pernah waktu berumur 4 tahun aku minta beliin baju SD karena tidak sabar mau sekolah. SD aku berjalan lancar – lancar saja, punya  teman dekat yang berganti – ganti, aku orangnya cepat bosan waktu itu. Masa SD aku Cuma punya kenang – kenangan juara menggambar 3 tahun berturut – turut, juara 3 besar terus dan suka nampil tari. Aku masuk ke SMP 3 dekat rumahku, di SMP aku ikut MOS ya betul katamu aku pakai aksesoris yang tidak jelas dan apa gunanya tidak penting.  Tetapi aku dapat pacar gara – gara MOS hahaha”
“SMP?? Baru kelas satu?”
“hahaha aku cepat gedenya jadi kecil – kecil sudah tahu pacaran. Nama pacar pertamaku Faris dia kakak kelasku yang ganteng sekali. Aku merasa jadi cewek paling beruntung di SMP ku jadi lah aku merasa cantik  sekolah itu dan teman – temanku juga pada ….”
“Centil?”
“Iya, kami cewek paling top dan agak selengekan disana. Hubungan aku dengan pacar pertamaku Cuma 5 bulan. 5 bulan yang menyenangkan. Setelah 2 bulan jomblo aku pun dapat pacar lagi teman sekelas ku sendiri.  Kami pacaran sampai kelas dua dan di awal kelas dua kami putus gara – gara berpisah kelas hahaha lucu sekali kami tidak sanggup harus jarak jauh kelas.”
“Siapa namanya?”
“Jamal dia anak nakal dikelasku tapi dia baik kok, lalu selama kelas dua aku tidak  terlalu peduli dengan cowok – cowok  dan saat kelas tiga baru lah aku punya pacar lagi namanya Tano dia itu anak SMA, dia tau aku dari friendster  dan ketemuan lalu cocok gitu. Sampai lulus aku masih bersama Kak Tano, aku masuk SMA favorit di kota ini. Alhamdullilah aku lulus teman – temanku yang lain tidak ada yang lulus jadilah aku sendiri disana. Memang sekolah itu lumayan jauh dari rumah tetapi kalau ditanya sekolah dimana Fitri? Di SMA DR rasanya bangga juga”
“Tano SMA disitu?”
“Iya dia disana, dialah yang maksa aku sekolah disana katanya aku lebih baik disana karena dia tahu isi lapor ku. Disana ada kelas akselerasi untung aku tidak masuk kelas itu. Aku yang dulunya suka bercentil ria masa’ harus belajar keras biar bisa 2 tahun lulus SMA. Pacar ku yang pertama kali aku bawa kerumah ada Kak Tano, dia baik sekali dan aku yakin dia ini punya sopan santun yang tinggi maka aku beranikan ajak dia kerumah. Bahkan aku kenalkan ke Kakekmu. Saat dia lagi di Kota sepertinya saat itu kamu masih SMP karena kakek belum menetap disini. Hubungan aku dengan dia juga paling baik daripada dengan yang lain dan dia juga pacar terakhirku.”
“Hah? Kenapa?”
“Iya saat kelas tiga aku menemukan sosok yang beda, dia sungguh keren Sil, gaya bicaranya pun buat dia jadi  orang yang  apalah pokoknya benar – benar buat aku mikir dia terus. Dia anak akselerasi saat aku kelas  dua dia baru masuk. Aku selidiki dia lewat friendster    ternyata saat SMP dia juga Akselerasi daerah kota lain. Dia dulunya tinggal di kota ini tapi sepertinya dia pindah terus balik lagi. Aku sungguh mencari tahu dia itu. Sampai aku lupa Kak Tano ada, aku kelas tiga mau ujian dan Kak Tano sibuk dengan kuliahnya kami pun putus. Sebenarnya tidak bukan itu juga mungkin memang bosan kali ya Kak Tano juga sepertinya sudah punya yang baru dikampusnya kelihatan dari status facebooknya bukan friendster lagi.  Walau sudah tidak berhubungan aku tetap menghormati dan menghargai Kak Tano, dia baik sekali dan karena dia juga lah aku jadi berubah dari anak centil jadi anak normal dan masuk SMA DR.  Eh, tadi Kak Tano ada lho di bawa istri dan anak pertamanya yang masih bayi lagi, kau tahu tidak?” aku jadi bertanya ke Arsil takut dia ketiduran mendengar ceritaku
“Yang mana ya?” dia  mengingat
“ yang pakai batik”
“Rata – rata juga pada pakai Batik Fit” aku cengir saja
“Yang ganteng dan istrinya cantik, anaknya aku gendong dan tidak nangis sepertinya itu anak tau aku mantan bapaknya”
“ohhh iya ya, pantasan laki – laki itu kayak kenal dekat sama kamu tapi ya tadi istrinya kayaknya gak senang liat kamu gendong bayi itu dari bapaknya, kayaknya dia cemburu. Pantasan kamu mantannya”
“Hehehe abis lucu banget anaknya, kan Kak Tano sudah kuanggap abang sendiri”
“Terus gimana dengan dia, kamu pacaran gak sama dia?”

Jumat, 05 Oktober 2012

Raja dan Ratu Seharian (Ep. 7)



“Difa gimana?”
“Oh saat aku pulang ternyata dia sudah lulus dan tinggal menunggu wisuda 3 bulan lagi. Aku yang ingin bereng terus dengan dia jelas menargetkan skripsi selesai sebelum pendaftaran wisuda ditutup dan aku berhasil wisuda bareng dia. Ternyata selama 3 bulan menunggu aku eh wisuda maksudnya dia mencari beasiswa S2 dan dia dapat diluar negeri. Aku senang sekali saat dia beritahu kabar itu, ingin memuluknya dikerumunan orang – orang yang sedang bahagia juga. Aku berfoto berdua dengan dia saat memakai toga sungguh foto dengan dia hanya dia pertama kali dan saat yang begitu indah. Ternyata dia harus berangkat besok lusa dan kembali tidak jelas yang pasti katanya saat lebaran. Aku yang tadi diatas tiba – tiba jatuh kebanting pula. Aku jadi ingin ke luar negri juga ke prancis menjaga dia maksudku kuliah bareng dia. Tetapi aku terlambat untuk mendaftar. Aku pun bingung dengan masa depan setelah lulus Difa kembali kuliah dan aku jadi pengangguran oh rasanya aku gagal jadi calon suami Difa. Setahun pertama di tinggal Difa aku tinggal di kampung dan kakek juga tinggal disana. Aku benar – benar kehabisan ide bagaimana bisa ke prancis menyusul Difa, aku mencari pendaftaran sekolah disana tapi untuk jurusanku tidak ada. Orang tua menyuruhku kerja saja mereka heran dulu disuruh sekolah minta kerja sekarang disuruh kerja minta sekolah.”
“Hahaha lalu kau kerja dimana perusahaan kakek? Kenapa tidak minta tolong kakek kan dia bisa bantu”
“Perusahaan kakek ada di luar negri di Singapura dan diurus sama paman. Aku tidak mau ke Singapura aku Cuma mau prancis. Sekolah disana bersama Difa. Aku mendapat ilham walau Difa disana kuliah S2 dan aku tidak, aku bisa saja lebih hebat darinya bukan kerja di kantoran atau jadi PNS yang katanya hidupnya di jamin. Tetapi aku jadi pengusaha menurut aku ya orang kerja sehebat apapun tetap kalah hebat dengan orang yang menciptakan lapangan pekerjaan. Aku yakin bisa membuat Difa tercengang saat dia pulang melihat aku yang sudah punya banyak anak buah dan semoga dia mau jadi istriku. Itu keinginanku saat itu. 
Aku berbicara kepada kakek dan dia sangat setuju dia mau menanamkan modal kepadaku. aku buat perusahaan kecil – kecilan yang belum ada namanya saat itu. Perusahaan itu akan menampung segala hasil panen para petani di kampungku termasuk punyaku juga. Di perusahaan itu akan ada pengolahah dari hasil pertanian tersebut, lalu dijual ke supermarket yang ada di kota. Dengan modal yang tidak tanggung – tanggung dari kakek aku bisa membuat pabrik atau perusahaan itu menjadi besar yang ku bangun di tanah luas milik kakek juga. Tanah itu gratis sebagai hadiah aku lulus S1 dengan predikat terbaik.kalau perusahaan yang dibangun itu akan aku ganti aku pinginnya itu perusahaan benar – benar aku yang miliki dan aku pula yang ngurus. Setahun perusahaan itu selesai dengan ilmu yang aku punya kau tahu bagaimana mengolah hasil panen itu sebelum dijual. Jadi diperusahaan itu aku jadikan semacam pabrik pengolahan berbagi macam hasil pertanian seperti padi jadi sekarung beras yang bersih dan siap jual ke supermarket, buah – buahan yang bersih dan bertahan lama, dan sayuran segar  bahka daging pun aku ikutkan. Awal sebelum perusahaan dibangun aku cuma sibuk membuat perencanaan aku cari petani – petani itu dan bahkan modal yang kakek beri aku kasih ke petani untuk menanam segala macam tanaman hortikultura tanpa memikirkan harga pupuk yang mahal dan modal yang sedikit. Perusahaan itu semakin besar banyak produk makanan yang ada di supermarket dari perusahaanku tetapi tidak ada labelnya karena aku belum ngasih nama. Kakek yang minta aku segera kasih nama dan perusahaan itu akan dipromosikan kemana – mana. Aku sampai semalaman memikirkan nama yang cocok, aku ingin kasih nama Difa Company  karena tekad aku untuk membuat perusahaan ini karena dia ingin lebih baik saat dia pulang nanti tetapi karena aku takut malah di ketawain maka aku beri nama RINDU. Aku rindu sekali  dengan Difa sungguh perusahaan itu untuk Difa karena Difa, terbesit dipikiranku andai Difa jadi istriku ini lah mahar yang aku berikan kalau saja dia tidak ada mana mungkin aku bisa jadi pengusaha seperti ini ”
“Dangdut sekali namanya. Pasti banyak yang tidak setuju”
“Iya, semuanya ketawa saat sarapan pagi. Aku kecewa sekali padahal itu kan menggambarkan perasaanku. Aku cari lagi kata Kakek yang bagus kalau bisa di asingkan bahasanya manatau ini perusahaan akan mendunia. Aku dapat FINDATION. Menemukan , ingin menemukan Difa perusahaan ini sebagai  pengeluaran perasaan aku yang terus mencari tahu kabar Difa gimana, dimana dia, sedang apa dia dan masih ingatkah dengan aku karena kabar Difa hilang. Bahkan sampai sebelum kita menikah perusahaan itu masih berharap menemukan  pemiliknya Difa”
Aku bingung kenapa sebelum menikah apakah maksudnya perusahaan itu jadi milikku karena aku sekarang lah istri nya. Findation sudah terkenal 5 tahun yang lalu perusahaan ini membuat berbagai makanan dari bayi sampai orang dewasa tak ku sangka alasan membuatnya hanya untuk  seorang cewek. Sebenarnya aku ingin tahu Difa itu siapa yang sebenarnya, Arsil menyembunyikan sesuatu dan aku juga ada yang aneh dari Difa ini.
“Ya itu kisah aku. Dari kecil sampai sekarang. Dari yang Cuma pedagang sayur yang banyak ngoceh pada Ibu – ibu dan bermimpi jadi penjual sayur yang terkaya di Kampung. Dan sekarang terwujud bahkan bukan sekedar pedagang sayur tapi lebih”
“hebat sekali mimpi yang diketawai dulunya. Kabar Difa?”
“aku tidak tahu” dia menunduk saja dan tidak dilanjuti ceritanya. Sampai itu sajakah? Sampai Difa saja dan aku bagaimana dia tidak menceritakan saat melamar aku bersama keluarganya 3 bulan lalu dan seperti dikejar minta nikah secepatnya. Dia dan aku memang di jodohkan karena orang tua ku dan keluarga Arsil sangat dekat. Kakek Arsil sudah seperti Ayah bagi Orangtuaku. Kakekku dulu punya perusahaan di Kota dan Papa bekerja disana. Papa sering belajar dengan kakek Arsil saat kakek pulang ke kota dulu dan Ayah Arsil masih tinggal dikota jadi Ayah dan Papa sudah dekat hanya karena Ayah menemukan cintanya di Ipukandra dan Papa tetap di kota jadi mereka terpisah. Kakek juga pindah ke singapura menemani anak sulungnya  memimpin perusahaan miliknya. Aku yang selalu ada di kota jadi cucu kakek saat dia pulang. Tidak pernah sekali pun kakek bercerita soal Arsil yang selalu diceritakannya Ipukandra dan berharap cucu – cucunya bisa jadi Ipukadra. Saat aku sudah lulus baru lah kakek memperkenalkan aku kepada cucu Ipukadranya. Setelah mendengar cerita Arsil ini memang benar Arsil lah Ipukadra itu karena dia lah desanya jadi maju sekali. Petani – petani disana bukan lagi kuli yang dibayar tetapi pemilik tanah. Dan Arsil sudah millionaire muda dia punya sifat kerja keras yang tersirat.
“Eh Fit, aku sudah cerita dari awal sampai akhir, terus gimana kamu?”
“Gimana apanya?”
“Cerita hidup kamu Fit, aku sudah jujur sejujurnya, nah sekarang kamu cerita yang jujur”

#Bersambung