Kamis, 27 September 2012

Ratu dan Raja Seharian (Ep. 5)



*postingan ini dibuat sebelum ada berita2 mengenai tawuran yang sedang rame sekarang

“Saat itu tidak ada lagi smp – smp negeri yang masih membuka pendaftaran masuk  jadi aku daftar ke smp swasta yang murah dan bisa menerima aku. SMP HP itu nama smp pertama ku  yang kecil sempit dan lumayan jauh dari kosan ku, aku sudah mencari kosan dekat SMP HP tapi tidak ada yang murah jadi aku tetap kos di dekat SMP 1 dan menanggung malu saat mau pergi sekolah dan pulang sekolah karena di seragamku tercantum besar – besar nama SMP ku itu. Kadang malah ada yang menertawakan aku didepan aku sendiri dan bilang pemanjat dari SMP 1 ke SMP HP, aku pura –pura tidak kenal saja dengan mereka.”
“Yang sabar ya Sil,”
“Kamu bilang sabar seperti  kejadiannya sekarang saja”
“Oh iya hahahaha, terus teman sekosan yang SMP 1 gimana?”
“Ya tidak kenapa – kenapa, mereka tetap jadi teman sekos yang baik kok, cuek, pura –pura gak kenal dan angkuh. Di SMP HP lah aku merasa roda ada dibawah tanpa aku sadari aku yang memutar roda itu sendiri.” Dia memandang langit dengan wajah mellow seperti memandang bintang –bintang padahal diatas sama sekali tidak ada bintang, cerita lucunya akan berganti kah?
“aku di SMP itu menghindari pergaulan anak kota, aku diam saat belajar dan diam saat istirahat semua itu hanya bertahan 3 bulan. Aku lah yang dikejar teman – temanku saat itu, mereka mengajakku ke kantin dan akan ditraktir mereka tahu aku anak kos mungkin mereka berpikir aku seperti itu karena uang ku sedikit. Aku ikut –ikut saja dengan mereka. Fit, semua itu di awali ikut – ikut saja tanpa tahu kenapa , ada apa dan siapa mereka. Aku saat itu kesepian dan bosan dengan sikap yang menentang  sikap sebenarnya aku karena malu dan disaat rasa nyesek itu dipuncak ada yang mengajakku keluar tanpa aku lihat lagi arah mana aku dibawa”
Arsil berbicara sangat puitis sampai – sampai aku tidak tahu maksudnya apa, aku mendengarkannya saja tanpa mengganggu kenangan dia yang kembali
“aku awalnya dilayani seperti teman yang baik dan berjasa, dibayari dan benar – benar disayangi dan tidak lama mereka mengajakku jalan – jalan sepulang sekolah. Aku dengan konyolnya mengira itu adalah belajar bersama ternyata hanya duduk dipinggir jalan sambil ngerumpi dan ada yang merokok itu saja kerjaan kami. Aku lebih banyak bengong daripada menikmati pemandangan jalanan. Besok –besoknya aku tidak membawa buku ataupun tas dan memakai pakaian yang hampir sama dengan mereka. Bernyanyi – nyanyi di pinggir jalan ntah apa gunanya. Dan beberapa hari kemudian kami bertemu dengan kakak senior kami. Oh ya aku tidak ikut MOS lagi aku tidur di rumah saja saat hari – hari MOS. Kakak senior kami itu lebih ganas mereka tetap memakai pakaian SMP  dan seenaknya bergabung dengan kami. Dan mulai saat itu kami dan aku gabung dengan kakak kelas, yang dulunya anak nongkrongan yang pulang dulu kerumah untuk makan dan sholat sekarang malah tidak pulang langsung mencari posisi untuk duduk dan melakukan kegiatan yang menurut kami asyik. Aku mulai dikenalkan dengan rokok sebenarnya aku sama sekali tidak tahu rokok Ayah bukan perokok dan saat dikampung aku jarang ketemu orang yang merokok, aku tahu bahaya rokok tapi ya ikut – ikutan itulah. Aku mulai merokok. Menghisap kertas yang dibakar dan menghembuskan asap, saat pertama kali teman – teman ku tepuk tangan dengan bangganya mereka bilang aku lah perokok professional karena sekali coba sudah keren. Aku memakai seragam yang rapi tiap mau sekolah dari aku SD dulu, ibu bilang kalau mau kerumah orang harus berpakaian rapi apalagi mau ke rumah ilmu harus lebih sopan agar disegani ilmu. Tetapi  aku lupa dengan pesan Ibu yang dulu hampir tiap hari dia sebut itu. Aku ke SMP HP dengan pakaian yang mulai tidak rapi muka kusut dan tidak memakai seragam yang lengkap. Kelas satu begitu cepat untuk perkenalan saja. Dan aku jadi kelas dua yang lebih ganas lagi. Aku mulai jadi senior dan kami yang dulu takut dengan senior kami yang dulu mulai lebih berani dan bertindak seperti preman. Saat kelas dua itu aku baligh aku berubah jadi remaja bukan anak – anak lagi. Ayah tahu aku akan mengalami masa – masa itu dan butuh petunjuk, di tiap telepon  ayah menjelaskannya pada ku akan ada perubahan pada diriku  aku mengerti penjelasan ayah jadi walau tidak sama orang tua tapi aku merasa dibimbing juga kok sama orang tua saat masa perubahan itu. Aku bergaul dengan teman yang dewasanya lebih daripada aku dan mereka bercerita soal cinta. Mereka kadang membawa pacarnya ke tempat nongkrongan kami, kadang pacar yang dibawa bermacam – macam ada satu orang pernah bawa 3 cewek ke tempat kami. Saat itulah aku memaksa mengenal cinta, kau tahu Fit waktu kelas satu aku sering melihat gadis yang seperti selalu memerhatikan aku saat mau pergi dan pulang sekolah di depan SMP 1, saat itu aku cuek saja aku kira dia mau ngejek aku dan setelah mendengar penjelasan teman – temanku yang mengaku Pecinta sejati aku tahu dia suka padaku. Aku tes saja menegur itu cewek dan berkenalan eh taunya dia menembak aku dan aku yang memang saat itu belum pernah bawa pacar oke oke saja bila dia mau dibawa ke tempat nongkrongan aku.  Dia bilang dia kagum melihat aku yang berani melawan kepsek. Dan di SMP HP ada cewek yang cantik di kelas sebelah  aku tembak saja dan kau tahu tidak aku nembaknya pakai kata – kata cewek SMP 1 itu dan memang gombalan tuh cewek memang gila tuh cewek nerima aku langsung tanpa malu – malu dia lantang bilang iya aku mau jadi pacar kamu, padahal waktu aku ditembak cewek SMP itu saja malu – malu mengangguk hehehe”
“ihh kamu ditembak cewek kayak cewek saja, idiiihhh”
“Ehhh, mengangguk ku itu pakai perasaan jadi kesannya aku itu romantis, aku sudah punya cewek 2 dan belum juga aku bawa 2 cewek itu ke tempat nongkrongan aku, aku dikenalkan dengan cewek yang tetanggaan dengan temanku, katanya saat aku kerumahnya cewek itu melihatku dan dia naksir pada ku”
“ihhh sok keren”
“Lho itu katanya kan bukan kataku, tapi memang aku ganteng saat SMP”
“Kalau sekarang?”
“Sepertinya tidak, cari jodoh saja harus dijodohkan  hehehe”
“hahaha dulu laku sekarang ngga” kami tertawa bersama - sama
“iya dulu aku dapat cantik – cantik sekarang??”
“APA?” aku masang muka marah dan dia hanya tertawa dan melanjutkan kisahnya
“sudah 3 lah cewekku dan yang lain aku dapatkan di dunia maya, orang yang tidak sama sekali ku kenal  Cuma Hi lam kenal, leh kenalan gak?, eh nanti ada yang marah gak kita ngobrol gini?, terus tidak lama kemudian mau gak jadi pacar aku? Dengan santainya teman chat aku bilang iya kita sepertinya cocok. Padahal ya yang ngechat paling banyak itu teman ku dia yang sengaja menyruhku seperti itu biar dapat banyak pacar dan aku yang tidak pintar gombal – gombal menyerahkan semuanya ke dia walaupun aku yang chatting sama cewek – cewek itu juga pasti aku bilang sorry ya aku mau pulang dulu atau mau ke toilet. Dan tibalah aku kebingungan melayani orang yang tidak ku kenal itu lewat handphone ku, aku hanya membalas seadanya dan balik nanya itu lah terus. Aku banyak dapat teman cewek di dunia maya tetapi Cuma dual ah yang bisa jadi pacarku.
Pacarku ada 5 dan aku pemenang sebagai pecinta sejati di genk ku itu. Aku menikmati jabatan itu dan menikmati cewek – cewek yang bodoh itu. Anak SMP 1 itu kusuruh buat tugas ku, tetangga nya teman nongkronganku sering bawa aku makanan dia titipkan ke temanku itu dia tidak bisa pergi ke tempat kami karena orang tuanya yang protektif dan tentu saja aku tidak boleh kerumahnya karena dia dilarang pacaran. Pacar se SMP dengan ku kadang menemani ku di sekolah, pagi – pagi aku datang dia sudah memanggilku dan kami sudah bergandengan. Kadang tugas ku dibuat dia juga. Yang 2 itu dengan gebleknya setia mengisi pulsa ku. Aku bilang aku anak rantauan dan untuk smsan itu mahal bagiku dan mereka mengisi pulsaku dengan rutin asal balas sms mereka yang menanyakan Arsil sayang kamu lagi ngapain?, itu saja”
“Ya ampun Sil, kamu playboy gila, mainin perempuan segitunya”
“mereka yang geblek bukan aku”
“Hahaha terus gimana? Kamu bisa jadi pacar mereka semua?”
“Waktu rasanya cepat sekali baru saja menikmati fasilitas dari masing – masing pacarku aku sudah mendapatkan masalah di SMP HP”
“Bukannya masalah nya memang sudah ada dari awal masuk, berteman dengan preman, merokok lah dan berpacaran dengan banyak cewek lagi”
“Itu belum itu hanyalah awalnya saja, aku memang sudah jadi preman aku jadi sering majaki orang – orang karena uang kiriman Ayah yang gak mungkin cukup untuk beli rokok. Akhirnya aku ikut – ikutan lagi ke tingkat yang lebih tinggi yaitu tawuran. Hari senin aku ingat sekali hari itu, hari paling menyedihkan untuk aku. Cerita hari senin itu tidak pernah ku ceritakan ke orang lain hanya hari ini akan ku ceritakan ke kamu Fit, pagi – pagi seperti biasa nya aku datang terlambat sengaja biar  tidak upacara dan terima hukuman push up 20 kali, tidak sampai 30 menit aku disekolah ternyata guru – guru rapat dan kami boleh pulang. Aku senang sekali saat itu karena waktu itu aku tidak mengerjakan tugas jadi aku diselamatkan eh taunya aku diajak teman – teman se gank ku nongkrong di depan SMP yang tidak jauh dari SMP ku. Aku seperti biasa ikut saja. Waktu duduk didepan SMP itu teman – teman ku pada sibuk mengeluarkan barang – barang dari tas mereka ada yang bawa pisau, seruit, palu, dan linggis. Aku berpikir kita akan mencuri aku pun sudah pingin pergi dan belum juga lari tau – tau nya ada segerombalan anak – anak SMP tempat aku nongkrong itu berlari kea rah kami dan teman – teman ku malah ikut lari ke mereka, aku tau itu tawuran Fit, aku terlambat buat lari aku benar – benar takut sumpah aku tidak pernah di ajarkan berantem ataupun bermusuhan cukup dengan Girda saja. Aku juga ikut menyerang tanpa apa – apa, aku cuma menghindar agar tidak terluka, lawanku juga pada bawa senjata dan aku lihat ada yang pakai megang pinggang karena aku juga pakai tali pinggang untuk melawan mereka, dengan cekatan aku mencoba melawan sejadinya tetapi tiba – tiba ada yang memukul kepalaku rasanya sakit sekali aku saat itu mau pingsan karena takut diserang lagi aku pukul dia pakai tali pinggang kena lingginya tapi di tangannya satu lagi ada pisau dan lawan aku itu tertawa mengejek aku banci dan dia menggoreskan pisau di tanganku. Aku marah aku ambil linggis dan cepat memukulnya kena badannya kurasa pukulan ku sangat kuat tetapi dian masih bilang aku banci tambah marah aku dan aku naikkan linggis itu untuk memukul kepalanya tapi tiba – tiba temanku ada yang mencegahku katanya  “jangan pukul dia Sil, bahaya kalau ada yang mati dan ayo kita lari katanya polisi sudah “ belum juga ucapannya selesai dia teriak kesakitan kencang sekali. Aku sungguh kaget Fit, aku benar – benar tidak nyangka kalau dia ditusuk dari belakang sama lawanku tadi. Dia kesakitan Fit, sangat kesakitan matanya merah, mukanya penuh keringat dan dia berusaha ngomong tapi yang kudengar LARI. Aku bodoh dan jahat saat dia sangat kesakitan karena tulang belakangnya ditusuk dengan pisau aku malah  kebingungan dan ikut – ikutan lagi ikut berlari menghindar kejaran polisi sama dengan yang lain dan temanku yang kesakitan juga menyuruhku lari, dia sendiri disana saat polisi mulai mengejar kami. Aku pulang ke kosan dengan sangat ketakutan tidak pernah aku merasa takut selain hari itu, aku takut Hasan …. Me..ning..gal Fi” Dia menangis sepertinya benar – benar terjadi yang buruk dengan temannya.
“aku bingung harus gimana, semua temanku kabur entah kemana dan sudah sekitar 1 jam aku menangis di dalam kamar. Akhirnya aku ditangkap polisi, satu malam aku disana bersama dengan temanku yang juga tertangkap. Kabar Hasan belum ada yang tahu tidak ada yang berani bertanya ke polisi malam itu karena mereka semua sibuk memukulku, menyalahkan aku apa yang terjadi tadi siang. Sungguh aku juga marah dengan diri aku sendiri. Setelah habis dikeroyok semalaman di penjara akhirnya satu per satu dari kami keluar karena orang tua yang menjemput  tetapi aku anak rantauan minta jemput siapa. Polisi sudah menelepon ayahku dan katanya akan ada waliku yang datang menjemputku  sampai semua temanku keluar penjara belum juga ada yang datang. Aku tidak berharap bisa keluar cepat –cepat karena aku takut mendengar kabar Hasan, aku masih berharap di penjara saja aku tidak sanggup  hidup dengan penyesalan dan disalahkan orang – orang. Saat aku mau tidur pak polisi memanggil aku menyuruh aku keluar dan aku melihat laki – laki tua yang pernah kulihat tapi aku lupa. Aku malam itu pun keluar dari penjara dan tinggal bersama kakek.”
“jadi kamu ketemu kakek di penjara?”
“Iya, untuk pertama kalinya aku bertemu orang yang selalu diagungkan ayah. Kakek yang Cuma ku liat foto – foto nya saja  dan berharap tiap lebaran bisa ke kota untuk bertemu dengannya tapi karena kakek sejak aku lahir tinggal di luar negri maka kami tdak pernah berkunjung ke rumahnya, taulah penghasilan Ayah yang pasti tidak cukup untuk ke luar negri. Saat aku ditangkap polisi itu kakek sebenarnya baru saja tiba di Indonesia dan menelepon ayah, kakek benar – benar ingin bertemu dengan ku katanya dia kagum dengan aku persis seperti dia kecil dulu katanya. Dan saat itu ayah baru saja ditelepon polisi untuk menjemput aku yang ikut tawuran. Ya ayah bilang saja kalau mau liat aku liat saja di penjara dia baru saja tawuran mungkin capek tawuran jadi istirahat di penjara saja. Kakek yang mendengar itu tertawa – tawa saja dan kakek mau mengurus aku biar aku tidak rusak lagi. Jadi setelah aku bebas dari penjara aku tinggal sama kakek. Saat itu kakek memang tidak mengurus perusahaannya lagi karena dia mau istirahat saja, dia biarkan saja perusahaannya diurus Pamanku yang tinggal diluar negri juga.  Hidupku sungguh berubah disana, aku pindah sekolah dan untungnya rumah kakek jauh dari tempatku yang dulu.”
“Hasan?”

#Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar